Kembali ke Blog
Perbandingan

Titip Jual (Konsinyasi) vs Beli Putus: Mana yang Lebih Untung untuk Warung?

Tim FreeKasir31 Oktober 20267 menit membaca

Beli putus hanya lebih untung daripada titip jual (konsinyasi) bila hampir semua barang laku; dalam ilustrasi di artikel ini, titik impasnya sekitar 91% barang terjual. Di bawah angka itu, konsinyasi memberi laba lebih besar meski bagian warung per barang lebih kecil, karena barang yang tidak laku dikembalikan ke penitip, bukan menjadi kerugian warung.

Pertanyaan ini muncul setiap kali pembuat keripik, kue basah, atau sambal kemasan datang menawarkan barangnya. Ada yang menawarkan titip, ada yang meminta dibeli tunai dengan harga lebih murah. Pemilik warung biasanya memilih yang marginnya terlihat paling besar, padahal margin per barang hanya separuh cerita. Separuh lainnya adalah berapa banyak barang yang benar-benar terjual sebelum basi, melempem, atau lewat tanggal.

Apa beda konsinyasi dan beli putus?

Aspek Titip jual (konsinyasi) Beli putus
Modal di depan Nol; warung membayar setelah barang laku Penuh, dibayar saat barang datang
Bagian warung per barang Lebih kecil, misalnya 15% dari harga jual Lebih besar, misalnya 23% dari harga jual
Barang tidak laku Dikembalikan ke penitip Ditanggung warung, kecuali ada kesepakatan retur
Kendali harga jual Sering ditentukan penitip Ditentukan warung
Pekerjaan administrasi Lebih banyak: hitung sisa dan setoran tiap kunjungan Sedikit: sekali bayar, selesai

Bagaimana menghitung titik impasnya?

Contoh berikut memakai 100 bungkus keripik dengan harga jual Rp13.000. Pada beli putus, warung membeli Rp10.000 per bungkus, jadi modalnya Rp1.000.000 dan marginnya Rp3.000 (23%). Pada konsinyasi, warung menyetor Rp11.000 per bungkus yang laku, jadi bagiannya Rp2.000 (15%). Semua harga adalah ilustrasi, dan barang yang tidak laku pada beli putus dianggap tidak bisa diretur.

Barang laku Laba beli putus Laba konsinyasi Yang lebih untung
100 bungkus (100%) Rp300.000 Rp200.000 Beli putus
90 bungkus (90%) Rp170.000 Rp180.000 Konsinyasi
80 bungkus (80%) Rp40.000 Rp160.000 Konsinyasi
60 bungkus (60%) -Rp220.000 Rp120.000 Konsinyasi

Laba beli putus adalah uang penjualan dikurangi seluruh modal, karena barang yang tidak laku tetap sudah dibayar. Laba konsinyasi adalah bagian warung dikali barang yang laku. Keduanya sama ketika Rp13.000 × laku − Rp1.000.000 = Rp2.000 × laku, yaitu saat sekitar 91 bungkus terjual. Perhatikan baris 80%: margin beli putus yang terlihat 23% menyusut menjadi laba Rp40.000 untuk modal sejuta, atau 4%. Sisa 20 bungkus yang tidak laku memakan hampir semua labanya.

Rumus umumnya: beli putus menang bila persentase laku lebih besar dari harga beli putus dibagi (harga jual dikurangi bagian konsinyasi). Pada contoh ini, Rp10.000 ÷ (Rp13.000 − Rp2.000) = 91%. Masukkan angka penawaran Anda sendiri ke rumus yang sama.

Kapan sebaiknya memilih beli putus?

  • Barangnya awet dan laku pasti, seperti minuman kemasan atau mi instan dengan masa simpan panjang, sehingga hampir semua stok akan terjual.
  • Data penjualan sebelumnya menunjukkan laku di atas titik impas, misalnya barang titipan yang tiga bulan berturut-turut habis sebelum penitip datang.
  • Selisih harga cukup lebar, sehingga titik impasnya turun jauh di bawah 90%.
  • Pemasok mau menerima retur barang rusak atau mendekati kedaluwarsa, yang membuat risiko beli putus lebih mirip konsinyasi.

Kapan konsinyasi lebih aman?

  • Barang baru yang belum pernah dijual, karena Anda belum tahu berapa persen yang akan laku.
  • Barang berumur pendek seperti kue basah, roti, atau gorengan titipan yang harus habis dalam satu sampai dua hari.
  • Modal sedang ketat, misalnya menjelang tagihan pemasok lain jatuh tempo. Pertimbangan pembayaran pemasok dibahas di perbandingan bayar tunai dan tempo 30 hari.
  • Rak terbatas dan Anda ingin mencoba banyak barang kecil tanpa mengikat uang di setiap barang.

Banyak warung memakai keduanya: barang baru masuk sebagai titipan selama satu sampai dua bulan, lalu dipindah ke beli putus setelah datanya membuktikan barang itu laku di atas titik impas.

Kesalahan yang paling sering terjadi

  • Membandingkan margin per barang, bukan laba per kiriman. Margin 23% tidak berarti apa-apa kalau seperlima barang dibuang.
  • Tidak mencatat barang titipan di kasir. Uang penjualan titipan bercampur dengan uang warung, lalu setoran ke penitip diambil dari laba barang lain.
  • Lupa menghitung sisa barang di hadapan penitip. Selisih yang tidak dicocokkan saat itu juga hampir selalu berakhir dengan saling curiga.
  • Pindah ke beli putus karena satu bulan yang ramai. Ambil keputusan dari rata-rata beberapa kiriman, bukan dari bulan terbaik.
  • Membiarkan barang beli putus yang tidak laku di rak. Barang itu sudah menjadi kerugian; langkah melepasnya ada di panduan melepas stok mati.

Mencatat keduanya di FreeKasir

FreeKasir adalah aplikasi kasir gratis tanpa iklan yang berjalan offline-first: transaksi disimpan di perangkat lebih dulu, lalu tersinkron ke FreeKasir Cloud secara berkala saat online. Barang titipan dicatat sebagai produk dengan HPP sebesar harga setor, sehingga laporan penjualan langsung menunjukkan berapa yang harus disetor ke penitip dan berapa bagian warung. Dari laporan yang sama Anda bisa menghitung persentase laku tiap barang, yaitu angka yang menentukan apakah barang itu layak dipindah ke beli putus. Langkah pencatatan titipan secara rinci ada di panduan mencatat barang titip jual.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda titip jual dan beli putus?

Pada titip jual atau konsinyasi, pemasok menitipkan barang dan warung hanya membayar barang yang laku, sedangkan sisanya dikembalikan. Pada beli putus, warung membayar semua barang di depan dan menanggung sendiri barang yang tidak laku atau kedaluwarsa.

Kapan beli putus lebih untung daripada konsinyasi?

Hanya ketika hampir semua barang terjual. Dalam ilustrasi artikel ini, beli putus baru mengalahkan konsinyasi bila lebih dari sekitar 91 persen barang laku sebelum kedaluwarsa. Di bawah angka itu, titip jual menghasilkan laba lebih besar meski margin per barangnya lebih kecil.

Berapa bagian warung yang wajar untuk barang titipan?

Sebagai ilustrasi, bagian warung untuk barang titipan seperti kue basah atau keripik sering berada di kisaran 10 sampai 20 persen dari harga jual. Angkanya bergantung pada kesepakatan dengan penitip, jenis barang, dan kebiasaan di daerah Anda, jadi tuliskan selalu kesepakatannya.

Bagaimana mencatat barang titipan di aplikasi kasir?

Buat barang titipan sebagai produk biasa dengan HPP sebesar harga setor ke penitip, lalu catat stok masuk saat barang dititipkan. Saat penitip datang, cocokkan jumlah terjual di laporan dengan uang yang Anda setorkan, dan kurangi stok sisa yang dibawa pulang lewat penyesuaian stok.

Ingin Mengelola Toko Lebih Mudah?

Gunakan FreeKasir untuk mencatat penjualan, menghitung HPP, dan memantau stok otomatis secara real-time. 100% gratis, offline-first, dan data tersinkron aman ke cloud!

Mulai Gunakan FreeKasir